Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Mei 2012

kehilangan dan penyesalan


Hai sobat, kenalin aku Gita. Aku mempunyai seorang kakak, namanya Kevin. Kak Kevin, biasa aku memanggilnya demikian. Jangan pikir aku menyukainya, aku begitu kesal pd kakak semata wayangku itu. Ya tentu saja aku memiliki alasan atas segala sikapku padanya. Bagiku ia sama sekali tidak menampilkan figur kakak laki-laki impian seperti yang sering aku lihat di film ataupun cerita-cerita di novel. 
"Wesseh adek gue udah balik, nyelonong aja loe"
Aku sama sekali tak bergeming mendengar sapaannya. Seperti yang dia bilang, aku gak gubris dia.
"Siang .." suara lain, yang lebih lembut, yang terdengar lebih merdu, ikut juga menyapaku.
"Siang kak Wisnu .." sahutku, tersenyum manis.
Kalian boleh bilang aku jahat, tapi kalau boleh milih, tentu saja aku lebih milih kak Wisnu yang adalah sohib kak Kevin, sebagai kakakku daripada Kevin. Kak Wisnu membalas senyumku dengan senyumnya yang tidak kalah manis. Dan aku langsung bergegas masuk menuju kamarku sambil menatap kak Wisnu.
Alunan lagu dari ungu band kesukaanku, memenuhi sudut2 kamarku. Klik... Tiba2 lagunya brhenti. Betul saja, Kak Kevin yg matiin.
"Ngapain matiin, ganggu aja !" ujarku ketus, menatapnya tajam.
"Lagian lo dipanggil dari tadi di suruh makan, enggak nyahut" balas kak Kevin.
"Ya tapi gak usah asal matiin gini, ga sopan banget sih" kataku masih sambil menatapnya kesal.
"Haha, ayo mau makan enggak loe ?" tanyanya padaku.
Ini yang aku benci, saat aku masih dalam rasa sebalku terhadapnya, dia malah ketawa. Bisa ga sih dia ngerti kalau aku ini lagi marah sama dia ?!
"Duluan aja.." kataku. Kak Kevinpun turun.
Sekilas aku jadi memandangi foto kami berdua yang sengaja mama letakkan di atas meja belajarku. Saat itu, aku masih kelas 1 SD dan kak Kevin kelas 4. Kami masih akur, lebih tepatnya aku belum benci begini sama dia. Belum kesel bgini. 
Di dalam foto itu, kak Kevin merangkulku sambil mengecup keningku . Aku dan dia tampak begitu manis di sana, khas anak-anak yang lugu.
 
Tapi semua brubah smenjak aku SMP & kak Kevin SMK . Aku mulai bisa mengerti dan membedakan. Entah dari pergaulanku, atau pikiranku sendiri. Aku mulai membanding-bandingkannya dengan kakak laki-laki teman-temanku yang lain, hingga akhirnya aku memperoleh satu kesimpulan yang tepat. kak Kevin bukanlah sesosok kakak yang bisa di banggakan. Ditambah lagi sikapnya yang nakal dan iseng, orang tua juga lebih care kedia daripada aku. 



kenyataan itu bikin aku gak suka sama dia dan kehadirannya, hingga tanpa disadari, perlahan kami makin menjauh. Foto berdua pun gak ada sama skali.
Akhirnya aku turun buat makan, ditangga aku liat Mama ngelus2 punggungnya. Hal yang gak pernah dilakuin mama sama aku. Nafsu makanku hilang. Sial!
Aku benci padanya. Iri sama apa yang dia dapetin dengan mudah dan aku nggak. Dia bisa dengan mudahnya dapetin perhatian orang tuaku di banding aku.
Esok paginya ketika sarapan aku kaget, mama bilang hari ini kak Kevin yang bakal anter + jemput aku sekolah! Ah gak suka banget Gita kalau begini! Ingin rasanya aku menolak. Tapi apa daya, kata-kata mama itu adalah sederet kalimat yang langsung tersegel dengan cap dan gak bisa di ganggu gugat.
"Asikk gue nganter elo ke sekolah..haha..Yess.." dengan spontan tangan kak Kevin menepuk kepalaku pelan. Buru-buru deh langsung aku singkirin.
"Ish apaan sih!" kataku sebel. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, aku hanya diam. Syukurlah begitu lihat gerbang sekolah, aku begitu senang.
"Jangan turun !" cegahku, menarik ujung kaos kak Kevin, waktu dia hampir aja buka pintu mobil.
"kenapa ? gini-gini kan, ini sekolah gue juga dulu.."
"Please, loe di mobil aja.." nadaku melemah, aku menatapnya sambil memohon. Hal yang sangat jarang aku lakukan.
"Yaudah deh" jawab kak Kevin.
Tiba2 pak Roni, guruku yang baru datang menghampiriku. Untung kak Kevin udah cabut. 
"Gita, tadi itu si Kevin kan? Anak yang bandel dulu ?" tanyanya.
"Dia kakakmu ya? kok beda sama kamu, dia hampir keluar gara2 tawuran.." Tuhan, apa pula guru di hadapanku ini sama sekali gak nyaring ucapannya-_-
"Iya kali pak, aku juga ngga begitu tau kakakku dulu gimana.." sahutku berusaha biasa saja. Buru2 deh aku permisi masuk kelas sama pak Roni.
Ini bukan pertamanya aku denger catatan buruk tentang kak Kevin disekolah ini. Dia kan alumni sini, guru2 yang pernah ngajar pasti cerita yang gak enak.
Kalau biasanya bel pulang sekolah itu terasa menyenangkan, kali ini aku merasa sebaliknya. Karena 1/2 jam ke depan, bakal dijemput kak Kevin lagi.
"Nah itu adek gue.." suara yang begitu aku kenali, & emang bener, kak Kevin lagi berdiri depan gerbang, sambil diliatin anak2 cewek sekolahan ini.
Ya, sambil nahan kesel kepaksa pulang sama dia. Nyampe dirumah aku langsung nemuin mama.
"Ma besok aku tampil dipensi tapi belum tau nyanyi apa :("
"Wah adek gue nyanyi besok? Ikut ah !" Kak Kevin nimbrung.
"NGGAK! kakak gak penting, gak usah ngrusak acara Gita!" sahutku yng tiba2 membentaknya.
"GITA !!" mama menatapku tajam, belum pernah sebelumnya begini. Tapi aku kesel, aku terus berpegang sama pendirianku yang gak mau kak Kevin dateng besok
"Belain aja terus kak Kevin! Semua memang lebih sayang sama kak Kevin di banding Gita! Dasar kak Kevin benalu!" teriakku smbil naik kekamar.
Lalu aku menangis dikamar. Kebencianku meluap2 saat itu. Kak Kevin bikin aku ribut sama mama. Aku benci. Aku gak pengen dia ada disini !
Esok siang, lingkaran item & kesan sembab timbul dimataku. Aku ngrasa gak siap tampil pensi dalam keadaan begini. Lagi2 semua gara2 kak Kevin! aaa
" Gita , siap-siap ya, habis ini kamu tampil." perutku seperti melilit mendengar kata ketua Pensi tadi. Aku belom nyiapin apa2 ! aku pasrah.
Gitar dimainkan, tapi aku gak keluarin suara sama sekali. Mau nyanyi apa coba? Guru dbawah panggung memberi isyarat gitu, karena intronya udah lewat.
Tiba-tiba saja, entah darimana, ku dengar suara gitar lain. Bukan cuma itu, aku juga kenal banget petikannya, dan lagu apa yang dimainin..
"Kau jadi inspirasiku, semangat hidup, Dikala aku sedih dikala aku senang.." 
dari pintu aula, terlihat kak Kevin sedang memetik gitarnya. Aku trsenyum kaget sama kehadirannya. Aku akui dia ngebantu banget ya ini. Iya aku baru inget, itu lirik lagu yang diajarin papa waktu kami masih kecil..Itu lirik lagu khusus kami berdua dari papa. Dengan lancar kami meneruskan lagu itu lalu semua penghuni aula tepuk tangan meriah atas penampilan kami.

Jumat, 20 April 2012

Gadis Kecil Korek Api dan Malam Tahun Baru


Di malam natal, orang-orang berjalan dengan wajah yang gembira memenuhi jalan di kota. Di jalan itu ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api. "Mau beli korek api?" "Ibu, belilah korek api ini." "Aku tidak butuh korek api, sebab di rumah ada banyak." Tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu.
Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, akan dipukuli oleh ayahnya. Ketika akan menyeberangi 'alan. Grek! Grek! Tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari dengan kencangnya. "Hyaaa! Awaaaaas!" Gadis itu melompat karena terkejut. Pada saat itu sepatu yang dipakainya terlepas dan terlempar entah ke mana. Sedangkan sepatu sebelahnya jatuh di seberang jalan. Ketika gadis itu bermaksud pergi untuk memungutnya, seorang anak lakilaki memungut sepatu itu lalu melarikan diri. "Wah, aku menemukan barang yang bagus."
Akhirnya gadis itu bertelanjang kaki. Di sekitarnya, korek api jatuh berserakan. Sudah tidak bisa dijual lagi. Kalau pulang ke rumah begini saja, ia tidak dapat membayangkan bagaimana hukuman yang akan diterima dari ayahnya. Apa boleh buat, gadis itu membawa korek api yang tersisa, lalu berjalan dengan sangat lelahnya. Terlihatlah sinar yang terang dari jendela sebuah rumah. Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah.
Di rumah, yang dihangatkan oleh api perapian, dan penghuninya terlihat sedang menikmati hidangan natal yang lezat. Gadis itu meneteskan air mata. "Ketika ibu masih hidup, di rumahku juga merayakan natal seperti ini." Dari jendela terlihat pohon natal berkelipkelip dan anak-anak yang gembira menerima banyak hadiah. Akhirnya cahaya di sekitar jendela hilang, dan di sekelilingnya menjadi sunyi.
Salju yang dingin terus turun. Sambil menggigil kedinginan, gadis itu duduk tertimpa curahan salju. Perut terasa lapar dan sudah tidak bisa bergerak. Gadis yang kedinginan itu, menghembus-hembuskan nafasnya ke tangan. Tetapi, sedikit pun tak menghangatkannya. "Kalau aku menyalakan korek api ini, mungkin akan sedikit terasa hangat." Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek api dengan menggoreskannya di dinding.
Crrrs Lalu dari dalam nyala api muncul sebuah penghangat. "Oh, hangatnya." Gadis itu mengangkat tangannya ke arah tungku pemanas. Pada saat api itu padaamtungku pemanaspun menghilang. Gadis itu menyalakan batang korek api yang kedua. Kali ini dari dalam nyala api muncul aneka macam hidangan.
Di depan matanya, berdiri sebuah meja yang penuh dengan makanan hangat. "Wow! Kelihatannya enak." Kemudian seekor angsa panggang melayang menghampirinya. Tetapi, ketika ia berusaha menjangkau, apinya padam dan hidangan itu menghilang. Gadis itu segera mengambil korek apinya, lalu menyalakannya lagi. Crrrs!
Tiba-tiba gadis itu sudah berada di bawah sebuah pohon natal yang besar. "Wow! Lebih indah daripada pohon natal yang terlihat dari jendela tadi." Pada pohon natal itu terdapat banyak lilin yang bersinar. "Wah! Indah sekali!" Gadis itu tanpa sadar menjulurkan tangannya lalu korek api bergoyang tertiup angin. Tetapi, cahaya lilin itu naik ke langit dan semakin redup. Lalu berubah menjadi bintang yang sangat banyak.
Salah satu bintang itu dengan cepat menjadi bintang beralih. "Wah, malam ini ada seseorang yang mati dan pergi ke tempat Tuhan,ya... Waktu Nenek masih hidup, aku diberitahu olehnya." Sambil menatap ke arah langit, gadis itu teringat kepada Neneknya yang baik hati. Kemudian gadis itu menyalakan sebatang lilin la i. Lalu di dalam cahaya api muncul wujud Nenek yang dirindukannya. Sambil tersenyum, Nenek menjulurkan tangannya ke arah gadis itu.
"Nenek!" Serasa mimpi gadis itu melo ' mpat ke dalam pelukan Nenek. "Oh, Nenek, sudah lama aku ingin bertemu' " Gadis itu menceritakan peristiwa yang dialaminya, di dalam pelukan Nenek yang disayanginya. "Kenapa Nenek pergi meninggalkanku seorang diri? Jangan pergi lagi. Bawalah aku pergi ke tempat Nenek." Pada saat itu korek api yang dibakar anak itu padam. "Ah, kalau apinya mati, Nenek pun akan pergi juga. Seperti tungku pemanas dan makanan tadi..."
Gadis itu segera mengumpulkan korek api yang tersisa, lalu menggosokkan semuanya. Gulungan korek api itu terbakar, dan menyinari sekitarnya seperti siang harl. Nenek memeluk gadis itu dengan erat. Dengan diselimuti cahaya, nenek dan gadis itu pergi naik ke langit dengan perlahanlahan. "Nenek, kita mau pergi ke mana?" "Ke tempat Tuhan berada."
Keduanya semakin lama semakin tinggi ke arah langit. Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu, "Kalau sampai di surga, Ibumu yang menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita." Gadis itu tertawa senang. Pagi harinya. Orang-orang yang lewat di jalan menemukan gadis penjual korek api tertelungkup di dalam salju. "Gawat! Gadis kecil ini jatuh pingsan di tempat seperti ini." "Cepat panggil dokter!"
Orang-orang yang berkumpul di sekitarnya semuanya menyesalkan kematian gadis itu. Ibu yang menolak membeli korek api pada malam kemarin menangis dengan keras dan berkata, "Kasihan kamu, Nak. Kalau tidak ada tempat untuk pulang, sebaiknya kumasukkan ke dalam rumah." Orang-orang kota mengadakan upacara pemakaman gadis itu di gereja, dan berdoa kepada Tuhan agar mereka berbuat ramah meskipun pada orang miskin.

Kamis, 19 April 2012

Mandiin aku Ma...



                     Disebuah perumahan elit di jalan panji, terdapat rumah mewah yang dihuni oleh keluarga bahagia yang sudah dikaruniai anak laki-laki yang masih berumur 4 tahun bernama Revan. Orangtua Revan, ayahnya(Rizal) bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan ternama di Jakarta, dan Ibunya(Mutia) sebagai wanita karrier yang sukses dan sibuk, sehingga sebagai gantinya, Revan sejak kecil dirawat oleh baby sitter.
                Sejak kecil, Revan adalah anak yang sangat penurut, baik kepada Ayah maupun Ibunya. Walaupun sejak kecil Revan kurang perhatian Ayah dan Ibunya, dia tumbuh sebagai anak yang baik, layaknya anak seusianya. Ayahnya selalu disibukkan oleh pekerjaan kantor sehingga ia harus pergi pagi hari dan pulang malam hari ketika Revan sudah tidur, hingga nyaris tak ada waktu luang untuk berkumpul bersama Revan kecuali hari minggu. Dan Ibunya pun demikian, sebagai wanita karrier yang super sibuk, Mutia tidak bisa merawat Revan seagaimana Ibu rumah tangga semestinya. Tapi semua itu dilakukan untuk masa depan Revan.
                Revan kecil, adalah anak yang baik dan penurut, tapi lama-lama dia jadi berontak. Pada suatu hari, Revan bangun lebih awal dari Ayah dan Ibunya. Ketika Ibunya bangun, Revan meminta Ibunya untuk memandikannya, tapi Ibunya menolak dengan alasan ada urusan kantor dan telat. Tapi Revan maklum dan masih mengerti. Di hari berikutnya, hal yang sama di pagi hari juga dilakukan oleh Revan, Ia bangun lebih awal dan meminta mandi dengan Ibunya.
                "ma, mandiin Revan ya?"
                "mama minta maaf ya sayang, mama gak bisa mandiin kamu hari ini, mama ada urusan kerja sayang"
                "tapi, ma? mama kan gak pernah sekalipun mandiin Revan? mama gak sayang ya sama Revan?"
                "bukan begitu Revan, mama sayang kok sama Revan. Revan sayang, Revan harus ngerti mama."
                "mama."
                "besok saja ya sayang? "
                Dengan sikap pengertian dan penurutnya, Revan mengerti keadaan Ibunya. Keesokan harinya, Revan mengulangi perbuatan sebelumnya dengan sengaja bangun lebih awal dan minta dimandikan oleh Ibunya.
                "ma, Revan minta dimandiin mama.."
                "Revan, mama minta maaf, mama gak bisa mandiin Revan hari ini,, Revan sendiri kan tau mama sibuk,,,"
                "kalau mama sibuk setiap hari, terus kapan mama bisa mandiin Revan?"
                Revan mulai merengek dan menangis, tapi Ibunya tetap tak bisa memandikan Revan karena urusan kantor. Ibunya pun tak tega dengan tangisan Revan, tapi apa boleh buat? Kerja membuatnya tidak bisa merawat anaknya dengan baik.
                "ma, Revan pengen dimandiin mama sekali ini saja"
                "Mama gak bisa sayang..."
                "mama, gak sayang sama Revan, kenapa ma?"
                "mama minta maaf sayang, mandi sama bibi ya?"
                "tapi Revan gak mau, Revan maunya mandi sama mama"
                "Revan jangan nakal dong sayang, mama bener2 gak bisa"
                "mama jahat, Revan benci mama"
                Revan pergi ke kamar dengan menangis karena tidak dimandikan oleh mamanya. Mutia pergi ke kantor dengan menangis. Tidak seperti biasanya sikap Revan yang minta dimandikan seperti itu. Apa mungkin memang tidak pernah dimandikan jadi minta dimandikan?
                Di rumah, dari pagi Revan belum keluar kamar, apalagi sarapan sama makan siang. Bibi bingung dan langsung mengambil kunci cadangan dan membuka pintu kamar Revan dan terkejut dengan Revan yang tak sadarkan diri di lantai kamarnya.
                "badannya panas, Revan, bangun sayang"
                "Revan bangun"
                Bibi bingung, dan langsung menelpon Mutia di kantor
                "Bu, Revan pingsan bu, badannya panas"
                "kok bisa bi?"
                "ndak tau bu, Revan sepertinya demam"
                "demam? cepat bawa ke rumah sakit sekarang, nanti saya susul ke rumah sakit"
                "baik bu"
                Akhirnya, Bibi membawa Revan ke rumah sakit. Di rumah sakit, Mutia juga belum datang. Setelah itu...
                "anggota keluarga pasien...?"
                "saya dok, bagaimana kondisi Revan dok?
                "maaf bu, Revan terkena demam tinggi, dan kondisi dekarang sedang kritis..."              
                "kritis?"
                "ya bu, saya permisi dulu..."
                "baik dok...."
                (dari dalam ruang pasien)
                "dok...dok...pasien..."
                ..............................................................................................................................
                Di dalam ruang Revan dirawat, kondisinya sangat kritis,. Sampai saat itu pun, Mutia juga belum datang ke rumah sakit. Bibi terlihat bingung, sambil menunggu Mutia datang.
                (Dokter yang menangani Revan keluar dari ruang Revan tanpa ekspresi)
                "dok, bagaimana dengan Revan? apa ia baik2 saja?"
                "maaf bu, kami telah berusaha semampu kami, tapi kami berusaha, dan Tuhan yang menentukan"
                "jadi?"
                "maaf bu, saya menyesal mengatakan ini kepada ibu, tapi saya harus mengatakan bahwa Revan telah meninggalkan kita semua"
                "apa dok?"
                (terlihat Mutia datang dengan ekspresi wajah cemas)
                "bi, Revan mana bi?"
                "Revan?"
                "iya Revan!"
                (bibi hanya menangis tanpa menjawab pertanyaan bibi)
                "bi, Revan kenapa?"
                "Revan... Revan gak ada bu..."
                "apa bi? Revan gak ada?"
                "iya bu..."
                "Revan... Revan.. Revaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn"
                ..............................................................................................................................
                Di rumah Mutia, terlihat Mutia bersama Rizal menangis menatap mayat Revan. Dan tiba-tiba Mutia memeluk tubuh Revan yang tak bernyawa.
                "Revan, bangun sayang, Revan jangan tinggalin mama sendirian..."
                "ma, udah ma, Revan biar tenang, ikhlaskan ma..."
                "pa, mama nyesel pa... papa tau apa kata terakhir yang diucapin Revan ke mama?"
                "ma..."
                "pa, Revan bilang bahwa Revan benci mama..."
                "ma..."
                "pa, mama mau mandiin Revan pa,, Revan, bangun sayang, mama mau mandiin kamu.. Revan bangun sayang, ayo mama mandiin..."
                "ma... mama jangan gitu dong, kalau mama sedih, Revan disana pasti sedih... sudah ma..."
                "papa gak tau gimana jadi mama... dari kemaren Revan minta mandiin mama pa, mama selalu bilang mama gak bisa..."
                "ma,..."
                "Revan bangun, mama mandiin kamu, katanya kemaren mau dimandiin? Revan jangan benci mama sayang.... Revan,, mama sayang kamu... bangun sayang....."
..........................................................................................................................................
NILAI KEHIDUPAN : SESIBUK APAPUN KITA, KITA HARUS TETAP MEMBERIKAN PERHATIAN DAN KASIH SAYANG KEPADA ORANG TERDEKAT KITA... JANGANLAH TERLAMBAT MENYADARI BAHWA SESUATU YANG KITA MILIKI ITU SANGATLAH BERHARGA....


by : Afifah_Amalia

WAJAH


Durma mempunyai kesadaran yang luar biasa atas kesadarannya sendiri. Ia tahu bagaimana menghadapi orang bodoh, pintar, orang culas, orang jujur, orang miskin atau kaya. Ia bisa jadi orang gila dan gagu, ketika harus naik oplet karena tidak mampu membayar.Ketika muda ia merantau ke Yogya. Di sana ia membeli buku loakan. Pada halaman awal buku stensilan itu terbaca kalimat: filsafat tidak menanak nasi. Dan kini, dalam hidupnya di perantauan ia mencatat sendiri: ijasah tidak menanak nasi. Ia jadi penarik becak saat baru masuk Jakarta. Posisinya meningkat, saat ia jadi penjual koran.Lompatan jauh ke depan, yang paling spektakuler, terjadi ketika ia dari tukang koran menjadi wartawan surat kabar paling berpengaruh di Jakarta. Tidak banyak orang tahu proses metamorfosis dahsyat itu. Ia menutup ketat masa lalunya itu. Puncak karirnya, ia menjadi penasihat seorang politikus muda yang sedang naik daun. Ketika kemudian tokoh flamboyan itu menghalalkan semua cara, ia pilih mundur. Antiklimaks terjadi, ia jadi penganggur, hidup lontang-lantung.
Berbeda dengan mereka semua, Durma memilih warna lain. Ia memberikan beban berat kepada mukanya sendiri. Kepada wajahnya. Ia selalu siap menjadikan wajahnya sebagai alat penyamaran, alat berpura-pura, atau sebagai topeng perasaan dan pikirannya. Doktrin hidup pribadinya sekarang ialah: selama aku mampu merendahkan diri, siap dihina orang, aku masih bisa mendapatkan sedikit uang untuk hidup!
Wajahnya selalu menengadah, siap dimaki, dihina, disiksa, dianiaya, ditampar atau bahkan juga diludahi. Karena wajah baginya adalah satu penampang dan simbol kehormatan, maka Durma siap menelan risiko menjadi manusia yang tidak terhormat.
"Mengapa kau memilih bunglon sebagai mahagurumu?" tanya Paron. "Karena saya tidak punya mahaguru dari universitas. Toh ada bedanya. Bunglon berubah warna kulit untuk menyelamatkan dirinya, tanpa sadar. Ketika saya mengubah taktik saya, itu saya lakukan dengan sadar," jawab Durma.
"Apa kau tidak mampu mencari mahaguru yang lebih bermutu?
" ejek Paron.
"Ada, bahkan jauh lebih bermutu."
"Siapa?"
"Kemiskinanku. Penderitaan hidupku adalah guruku yang nomor satu."
"Coba, kasih contoh untukku salah satu bentuk penderitaanmu!"
"Saya pernah disuruh menagih utang oleh seseorang, kepada seseorang. Karena aku menagih di pinggir jalan, orang itu marah dan ia meludahi wajahku."
"Lalu, selanjutnya?"
"Selanjutnya aku menarik garis lurus kesimpulanku. Ternyata dengan bersedia diludahi di wajahku, aku dapat uang. Artinya aku bisa bertahan hidup!"
"Apa tidak ada bisnis lain? Pekerjaan apa yang kau lakukan itu?"
"Aku bisnis muka. Bisnis wajah! Bisnis lain juga banyak kulakukan. Aku mengurus SIM, STNK, BPKB, calo tanah, calo onderdil mobil." 
"Dan hasilnya membuat kau bahagia?"
"Walah! Walah! Mas Paron, untuk saya kebahagiaan itu tidak pernah ada!."
Sudah tiga tahun terakhir ini Durma bekerja sebagai sopir pribadi Bu Jonoamijoyo. Ia akrab dipanggil Bu Ami, dikenal sebagai perempuan yang paling galak, kasar, tetapi baik hati. Ia suka memberi uang kepada siapa saja. Tentang Bu Ami orang-orang mengatakan: Ia menghidupi orang dengan uangnya, sekaligus membunuh orang dengan kata-katanya. Semula Durma tidak percaya semua omongan orang itu. Setelah ia bekerja cukup lama barulah ia tahu apa yang sebenarnya.
Sebenarnya, Bu Ami perempuan yang cantik paras muknya, pikir Durma. selalu. Rambutnya yang hanya sebahu panjangnya, bergelombang alami. Memang sudah mulai memutih, tetapi menambah indah parasnya. Wajahnya selalu bersih, tanpa mengenakan bedak. Bibir pun merah asli tanpa gincu. Di zaman anggaran kecantikan mengalahkan anggaran pertahanan, ia sama sekali tidak berdandan.
Sayangnya, badannya terlalu besar karena gemuknya. Hebatnya, meskipun gemuk dengan bokong yang terlalu besar, ia selalu bergerak cekatan dan tidak ada segannya naik turun tangga dalam rumahnya yang berlantai tiga. "Durma, sebulan ini kau bekerja baik sekali. Kau tidak mangkir sehari pun. Kau pantas menerima bonus satu juta rupiah! Ingat, jangan sampai dicuri binimu di rumah. Perempuan kebanyakan hanya bisa mencuri uang suaminya. Rata-rata mereka tidak lebih dari komodo-komodo penghisap darah daging suaminya. Perempuan, juga istrimu, pastilah komodo yang pura-pura setia sebagai modal utamanya," ujar Bu Ami.
Sering kali, Bu Ami dimaki-maki orang di depan rumahnya, karena ia sendiri menghamburkan makian yang luar biasa kotornya. Dua musuh utama Bu Ami adalah pemulung dan peminta sumbangan yang terus tumbuh bagai cendawan di musim hujan. 
"Hai maling jahat! Rapikan kembali sampah-sampah itu. Kamu makan dari sampah, tetapi tak tahu aturan. Sampah kau obrak-abrik, berantakan. Baunya ke mana-mana. Jika tidak kau rapikan lagi, makan semua sampah busuk itu biar kenyang perutmu!" maki Bu Ami menghardik pemulung. Suatu hari, datang seorang pemuda gondrong membawa daftar sumbangan. Jumlah sumbangan sudah ditentukan. 
"Sumbangan itu suka rela. Jangan maksa begini! Aku tak mau dipaksa. Kalau maksa, namanya rampok! Garong! Kau pikir cari uang mudah?" ujar Bu Ami bergetar. Penarik sumbangan marah luar biasa. Ia menghunus goloknya, lalu mengejar perempuan gembrot yang menghinanya. Durma terpaksa tampil sebagai pahlawan.
Akhir-akhir ini Bu Amijoyo sakita-sakitan. Keluhannya, seringkali, kakinya merasa pegal-pegal dan ngilu, terutama pada bagian-bagian prsendiannya. Dia bilang itu penyakit asam urat. Maka secara periodik ia pun harus ke dokter dan apotek untuk beli obat. Langganannya: Voltaren, silorit. Hingga bosan ia membayar dokter dan membeli obat, tidak juga sembuh. Rasa sakit, nyeri dan ngilu memang lenyap setelah makan obat. Tetapi begitu obat habis, kambuh lagi rasa sakitnya yang sangat menyiksa.
"Durma, sudah seminggu kau tidak bekerja, lantaran aku sakit. Kau makan gaji buta! Sekarang aku sakit, kau tidak peduli. Sekarang kau mau berbuat apa?"
"Apa yang bisa saya lakukan, Ibu?"
"Kau punya otak atau tidak? Mestinya kau berpikir, bagaimana aku cepat sehat. Molor saja kerjamu itu!"
"Saya sudah antar Ibu ke dokter. Saya sudah ke apotek beli obat," jawab Durma.
"E, apa matamu buta? Sudah berapa juta uang dihamburkan untuk beli obat? Dokter mahal, obat mahal. Tidak menyembuhkan! Penipu! Coba cari obat lain, Durma!" 
Durma pergi mencari obat tradisional. Di jalan, ia jumpa Mas Paron lagi. "Kau masih bekerja pada Bu Gendut itu?" tanya Mas Paron.
"Masih, Mas. Orangnya baik sekali!"
"Baik sekali katamu? Sopir lain hanya tahan tiga hari! Kau sudah tiga tahun!" "Dia itu orang yang sangat kaya harta, tetapi sangat miskin bahasa. Ia banyak memberi uang kepada orang. Bukan hanya kepada saya saja, Mas!"
"Kau mau ke mana sekarang?"
"Majikan saya sakit asam urat. Sudah lama. Dokter dan obat tidak menyembuhkan, Mas. Kalau kumat, ia nangis jejeritan."
"Dia orang baik, katamu. Harus kita tolong. Nah cari obat tradisional, ini merknya. Adanya di warung jamu Pasar Lama. Harganya hanya seribu perak sebungkus," ujar Mas Paron. Durma pulang dengan sepuluh bungkus jamu. 
"Luar biasa. Seperti orang main sulap saja. Sayang langsung sembuh!" ujar Bu Amijoyo kepada Durma. Ia sangat kagum, sebab minum jamu sore, pagi harinya ia langsung bisa jalan normal lagi. Hari itu juga Bu Amijoyo minta diantar ke supermarket, untuk membeli keperluan sehari-hari. 
Beberapa waktu kemudian terjadi peristiwa yang paling mengejutkan dalam hidup Durma. Bu Amijoyo menyerahkan surat rumah, surat mobil kepadanya. "Ini mesti saya apakan, Ibu?"
"Pegang saja, simpan. Barang-barang itu semua akan jadi milikmu."
"Saya tidak berhak menerima warisan dari Ibu. Maafkan saya, Ibu!"
"Diam, Durma. Aku tak punya anak, tak ada sanak saudara. Aku akan ke notaris. Itu semua untukmu." ujar Bu Ami. "Tidak lama lagi saya masuk panti jompo. Di sana orang-orang tua yang tidak mau terlantar seperti aku, bakal dirawat dengan baik."
Beberapa bulan kemudian Bu Amijoyo menuju panti jompo, diantarkan Durma dengan mobil mewahnya. Di sana ia menunjukkan nomor kamarnya, tempat untuk menerima jengukan dan sebagainya.
"Saya yakin, Ibu masih punya kerabat dekat," ujar Durma memberanikan diri. "Jangan membuat aku berpikir mundur! Aku hanya ingin hidup bebas. Kebebasan adalah segalanya dalam hidupku!" ujar Bu Ami. Durma terdiam saja. 
"Baiklah kalau kau mau pulang. Tengok aku sehari sekali. Jika tidak, seminggu sekali atau sebulan sekali. Jangan lupa, kau akan mengatur pembayaran panti sebulan sekali. Terima kasih, Durma," ujar Bu Ami sambil tegak berdiri.
Durma mohon diri, untuk dengan berat hati meninggalkan majikannya. Bu Amijoyo memeluknya beberapa lama. Setekah renggang rangkulannya, Bu Ami menyeka air matanya. Begitu juga dengan Durma. Ia tak tahan membendung tangisnya yang tanpa suara. Perempuan tambun berwajah cantik dan bersih itu terus menatap langkah-langkah Durma, hingga tak tampak lagi dari pandangannya.

Rabu, 21 Desember 2011

Jangan Menyebut Dua Frasa Itu

Yang hidup di tepi laut, tak takut menyambut maut.
Tapi ia, juga orang-orang yang tubuhnya telah lama tertanam dan tumbuh-biak-berakar di kampung nelayan ini, adalah sekelompok paranoid, yang menanggung kecemasan pada dua frasa. Dua frasa ini merupa hantu, bergentayangan, menyusup, menyelinap, dan acapkali hadir dalam sengkarut mimpi, mengganggu tidur. Dan saat bayangannya hadir, ia membawa kaleidoskop peristiwa-peristiwa buruk, yang menyerang, datang beruntun. Maka, ketahuilah bahwa dua frasa itu sesungguhnya kini hadir lebih sebagai sebuah energi negatif yang primitif, selain bahwa ia juga sedang menghadirkan dirinya dalam sosoknya yang energik, molek dan penuh kemegahan.

Tapi mampukah ia, si renta yang bermulut tuah, bertahan untuk tidak menyebut dua frasa itu, yang sesungguhnya telah demikian lekat bersebati di ujung lidahnya, bagai asin laut yang ia cecap setiap hari dan terus mengalir di air liur ke-melayu-annya.

"Ingat ya Tuk, Datuk tak boleh menyebut dua frasa itu. Bahaya!" Demikian proteksi dari yang muda, dari cucu-cicitnya. Dan merekalah yang sesungguhnya membuat ia kian merasa cemas. Di usianya yang susut, ia justru merasa kekangan-kekangan datang menelikung. Tak hanya kekangan fisik karena kerentaan yang datang dari kodrat-kefanaan tubuhnya sendiri, tapi juga kekangan-kekangan yang kerap ia terima dari orang-orang di luar tubuhnya. Orang-orang yang sebenarnya sangat belia untuk mengetahui rasa asam-garam, sangat rentan terhadap patahnya pepatah-petitih di lidah mereka.

Tapi, di saat yang lain, ia merasa aneh. Kenapa dua frasa itu, akhir-akhir ini demikian bergaram di lidahnya, tetapi demikian hambar di lidah orang muda? Tengoklah mereka, orang-orang muda, mengucapkan dua frasa itu seperti angin yang ringan, terlepas begitu saja, dan terhirup tak berasa. Dua frasa itu mereka ucapkan di merata ruang, merata waktu. Dari ruang-ruang keluarga, sampai dalam percakapan di kedai kopi. Dan setelahnya, secara tersurat, memang tak ada satu pun peristiwa buruk yang tampak terjadi, seperti layaknya ketika ia, si lelaki renta, yang mengucapkannya.

"Datuk kan bisa melihat akibatnya, ketika dua frasa itu keluar dari mulut Datuk yang bertuah itu. Badai topan datang menyerang dari arah laut. Habis semua rumah-rumah penduduk. Lintang-pukang seisi kampung nelayan. Nah, kalau Datuk memang tak ingin melihat anak-cucu-cicit datuk porak-poranda, ya sebaiknya Datuk jangan sesekali menyebut dua frasa itu. Dan Datuk tak boleh iri pada kami, ketika kami dengan sangat bebas bisa menyebut dua frasa itu, karena Datuk sendiri tahu bahwa lidah kami memang tak sebertuah lidah Datuk."

Tapi ia, si lelaki renta itu, selalu merasakan ada yang aneh. Instingnya mengatakan bahwa ada badai-topan dalam wujudnya yang lain yang sedang menyerang, sesuatu yang tersirat. Sejak ia mengunci mulut untuk tidak menyebut dua frasa itu, justru kini ia menyaksikan persitiwa-peristiwa buruk yang lain datang, sedang menyusun kaleidoskopnya sendiri. Tengoklah, kenapa kian menjamurnya anak-anak perempuan yang hamil luar nikah, dan anak-anak terlahir tak ber-Ayah. Kenapa kian dahsyatnya anak-anak muda yang tenggen, mengganja, dan saling membangun anarkhi dan istana-istana mimpi dalam tubuh mereka. Kadang-kadang malah mereka kini tampak serupa robot, atau bahkan kerbau dungu, atau serupa mesin-mesin yang bergerak cepat tak berarah, membabi-buta. Akibatnya, kampung nelayan yang serupa tempurung ini, kini lebih tampak sebagai sebuah ruang diskotek tua yang pengap, sebuah ruang yang sedang menanggung beban masa lampau sekaligus beban masa depan.

Dan tengoklah pertikaian demi pertikaian yang terjadi. Jaring Batu hanyalah sebuah sebab, yang membuat perahu-perahu dibakar, orang-orang diculik, dipukul, dan perang saudara kemudian membangun tembok yang sangat angkuh di antara orang-orang Pambang dan orang-orang Rangsang. Hanya egoisme sesat yang membuat mereka lupa bahwa mereka sesungguhnya berasal dari satu rumpun, satu ras, satu suku. Dan mereka para nelayan, yang mestinya adalah para penjaga tepian ini, tapi kini mereka telah menjelma para nelayan yang meruntuhkan tepian ini.

Peristiwa buruk lain yang kini melanda adalah timbulnya beragam penyakit yang aneh. Penyakit-penyakit yang tak bisa disembuhkan hanya dengan tusukan jarum suntik pak mantri, dan kebal dari obat-obat generik yang dijual di kedai-kedai runcit. Dan anehnya lagi, penyakit-penyakit itu membuat si penderita seperti terkunci mulutnya untuk bisa mengucapkan dua frasa itu. Dan biasanya, ujung dari deritanya, mereka kebanyakan menjadi bisu, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun selain erangan.

Dan ia, si lelaki renta itu, seolah dapat memastikan bahwa sebab dari semua ini adalah karena kelancangan mereka yang menyebut dua frasa itu secara sembarangan. Tak hanya itu, dua frasa itu kini bahkan telah diperjual-belikan ke mana-mana, karena rupanya ia bernilai tinggi karena dianggap eksotis dan jadi ikon historis. Maka dua frasa itu diproduksi, seperti layaknya memproduksi kayu arang atau ikan asin. Dan anehnya, mereka tidak percaya bahwa lidah mereka sendiri sebenarnya juga bergaram. Tapi mungkin garam dengan rasa asinnya yang lain.

Sesekali ia, lelaki renta itu, pernah juga melemparkan saran, "Sebenarnya kalian juga tak boleh menyebut dan memperlakukan dua frasa itu secara sembarangan. Buruk padahnya nanti." Tapi, saran dari seorang renta yang bersuara parau, bagi mereka, hanya bagai suara gemerisik semak dalam hutan. Dan mereka selalu menjawab dalam bisik yang sumbang, "Maklum, masa mudanya tak sebahagia kita…"
***
Tapi di malam yang mendung itu, ia tak menduga tiba-tiba segerombolan orang secara agak memaksa, membawanya ke tepian laut. Lelaki renta itu bingung, kenapa orang-orang yang biasanya selembe saja padanya, kini demikian bersemangat memintanya untuk ikut bersama mereka. Apakah ada sebuah perayaan? Setahu ia, di sepanjang bulan ini tak ada perayaan hari besar maupun perayaan adat. Dan, kalaupun ada, biasanya ia lebih sering tidak diundang, karena mungkin dianggap telah demikian uzur, atau mungkin kehadirannya membuat orang-orang muda tak bebas berekspresi, karena pastilah terkait dengan pantang-larang.

Sesampainya di tepian laut, ia menyaksikan orang-orang telah duduk bersila, sebagian bersimpuh, di atas pasir hitam. Mereka tampak tertunduk demikian hikmat. Di bibir pantai, terlihat beberapa buah perahu yang berbaris, seperti barisan meriam yang moncongnya mengarah ke laut, siap diluncurkan. "Ah, inilah satu frasa itu, yang tampaknya akan dilayarkan ke satu frasa yang lain," pikir lelaki renta itu. Dan ia langsung dapat menduga bahwa akan ada sebuah upacara pengobatan tradisional. Tapi siapa yang sakit?

Seorang muda, tiba-tiba seperti berbisik ke telinga lelaki renta itu. "Datuk, kami mengundang Datuk ke sini untuk meminta Datuk supaya bisa mengobati kami semua." Lelaki renta yang dipanggil Datuk itu agak terkejut. Keningnya berkerut. Ia tidak melihat ada gejala atau tanda-tanda bahwa orang-orang yang berada di sini dalam keadaan sakit. Yang tampak olehnya adalah sekumpulan besar orang yang seperti sedang berdoa. Tapi pemuda itu berbisik lagi, "Datuk, kami semua yang berkumpul di sini sedang menderita penyakit bisu. Sebagian mereka telah benar-benar bisu dan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dan sebagian kecil yang lain, termasuk saya, tak bisa mengucapkan dua frasa itu, Datuk. Sementara untuk melakukan upacara ini tentu harus mengucapkan dua frasa itu kan, Datuk? Untuk itu, kami semua meminta Datuk untuk melakukan prosesi pengobatan… …pengobatan…pengobatan…tak bisa Datuk, saya betul-betul tak bisa mengucapkannya." Lidah pemuda itu seperti tersangkut saat hendak menyebut sebuah frasa.

Lelaki renta itu seperti tak percaya. Tapi kepalanya tampak mengangguk-angguk perlahan. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga pemuda, dan membalas berbisik, "Anak muda, kalian pernah melarangku untuk mengucapkan dua frasa itu. Kini kalian juga yang meminta aku untuk mengucapkannya. Apakah kalian tak takut badai topan yang akan menyerang? Kalian tak takut maut?"

Pemuda itu tertunduk ragu. Tak lama kemudian berbisik kembali. "Datuk, kami semua pasrah. Kalaulah ditakdirkan untuk menerima badai topan, dan kami harus mati karenanya, mungkin itu akan lebih baik daripada kami harus hidup membisu, dan tak bisa mengucapkan dua frasa itu…"

Bibir lelaki renta itu mengguratkan senyum. Ia kini tak yakin bahwa ia akan mampu bertahan untuk tidak menyebut dua frasa itu, yang sesungguhnya telah demikian lekat bersebati di ujung lidahnya, bagai asin laut yang ia cecap setiap hari dan terus mengalir di air liur ke-melayu-annya. Paling tidak di dalam hatinya, ia senantiasa mengucapkan dua frasa itu menjadi sebuah kalimat, Lancang Kuning yang tersesat di tepian Selat Melaka.



karya : Marhalim Zaini