Hai sobat, kenalin aku Gita. Aku mempunyai seorang kakak,
namanya Kevin. Kak Kevin, biasa aku memanggilnya demikian. Jangan pikir aku
menyukainya, aku begitu kesal pd kakak semata wayangku itu. Ya tentu saja aku
memiliki alasan atas segala sikapku padanya. Bagiku ia sama sekali tidak
menampilkan figur kakak laki-laki impian seperti yang sering aku lihat di film
ataupun cerita-cerita di novel.
"Wesseh adek gue udah balik, nyelonong aja loe"
Aku sama sekali tak bergeming mendengar sapaannya. Seperti yang dia bilang, aku gak gubris dia.
"Siang .." suara lain, yang lebih lembut, yang terdengar lebih merdu, ikut juga menyapaku.
"Siang kak Wisnu .." sahutku, tersenyum manis.
Kalian boleh bilang aku jahat, tapi kalau boleh milih, tentu saja aku lebih milih kak Wisnu yang adalah sohib kak Kevin, sebagai kakakku daripada Kevin. Kak Wisnu membalas senyumku dengan senyumnya yang tidak kalah manis. Dan aku langsung bergegas masuk menuju kamarku sambil menatap kak Wisnu.
Alunan lagu dari ungu band kesukaanku, memenuhi sudut2 kamarku. Klik... Tiba2 lagunya brhenti. Betul saja, Kak Kevin yg matiin.
"Ngapain matiin, ganggu aja !" ujarku ketus, menatapnya tajam.
"Lagian lo dipanggil dari tadi di suruh makan, enggak nyahut" balas kak Kevin.
"Ya tapi gak usah asal matiin gini, ga sopan banget sih" kataku masih sambil menatapnya kesal.
"Haha, ayo mau makan enggak loe ?" tanyanya padaku.
Ini yang aku benci, saat aku masih dalam rasa sebalku terhadapnya, dia malah ketawa. Bisa ga sih dia ngerti kalau aku ini lagi marah sama dia ?!
"Duluan aja.." kataku. Kak Kevinpun turun.
Sekilas aku jadi memandangi foto kami berdua yang sengaja mama letakkan di atas meja belajarku. Saat itu, aku masih kelas 1 SD dan kak Kevin kelas 4. Kami masih akur, lebih tepatnya aku belum benci begini sama dia. Belum kesel bgini.
Di dalam foto itu, kak Kevin merangkulku sambil mengecup keningku . Aku dan dia tampak begitu manis di sana, khas anak-anak yang lugu.
Tapi semua brubah smenjak aku SMP & kak Kevin SMK . Aku mulai bisa mengerti dan membedakan. Entah dari pergaulanku, atau pikiranku sendiri. Aku mulai membanding-bandingkannya dengan kakak laki-laki teman-temanku yang lain, hingga akhirnya aku memperoleh satu kesimpulan yang tepat. kak Kevin bukanlah sesosok kakak yang bisa di banggakan. Ditambah lagi sikapnya yang nakal dan iseng, orang tua juga lebih care kedia daripada aku.
"Wesseh adek gue udah balik, nyelonong aja loe"
Aku sama sekali tak bergeming mendengar sapaannya. Seperti yang dia bilang, aku gak gubris dia.
"Siang .." suara lain, yang lebih lembut, yang terdengar lebih merdu, ikut juga menyapaku.
"Siang kak Wisnu .." sahutku, tersenyum manis.
Kalian boleh bilang aku jahat, tapi kalau boleh milih, tentu saja aku lebih milih kak Wisnu yang adalah sohib kak Kevin, sebagai kakakku daripada Kevin. Kak Wisnu membalas senyumku dengan senyumnya yang tidak kalah manis. Dan aku langsung bergegas masuk menuju kamarku sambil menatap kak Wisnu.
Alunan lagu dari ungu band kesukaanku, memenuhi sudut2 kamarku. Klik... Tiba2 lagunya brhenti. Betul saja, Kak Kevin yg matiin.
"Ngapain matiin, ganggu aja !" ujarku ketus, menatapnya tajam.
"Lagian lo dipanggil dari tadi di suruh makan, enggak nyahut" balas kak Kevin.
"Ya tapi gak usah asal matiin gini, ga sopan banget sih" kataku masih sambil menatapnya kesal.
"Haha, ayo mau makan enggak loe ?" tanyanya padaku.
Ini yang aku benci, saat aku masih dalam rasa sebalku terhadapnya, dia malah ketawa. Bisa ga sih dia ngerti kalau aku ini lagi marah sama dia ?!
"Duluan aja.." kataku. Kak Kevinpun turun.
Sekilas aku jadi memandangi foto kami berdua yang sengaja mama letakkan di atas meja belajarku. Saat itu, aku masih kelas 1 SD dan kak Kevin kelas 4. Kami masih akur, lebih tepatnya aku belum benci begini sama dia. Belum kesel bgini.
Di dalam foto itu, kak Kevin merangkulku sambil mengecup keningku . Aku dan dia tampak begitu manis di sana, khas anak-anak yang lugu.
Tapi semua brubah smenjak aku SMP & kak Kevin SMK . Aku mulai bisa mengerti dan membedakan. Entah dari pergaulanku, atau pikiranku sendiri. Aku mulai membanding-bandingkannya dengan kakak laki-laki teman-temanku yang lain, hingga akhirnya aku memperoleh satu kesimpulan yang tepat. kak Kevin bukanlah sesosok kakak yang bisa di banggakan. Ditambah lagi sikapnya yang nakal dan iseng, orang tua juga lebih care kedia daripada aku.
kenyataan itu bikin aku gak suka sama dia dan
kehadirannya, hingga tanpa disadari, perlahan kami makin menjauh. Foto berdua
pun gak ada sama skali.
Akhirnya aku turun buat makan, ditangga aku liat Mama ngelus2 punggungnya. Hal yang gak pernah dilakuin mama sama aku. Nafsu makanku hilang. Sial!
Aku benci padanya. Iri sama apa yang dia dapetin dengan mudah dan aku nggak. Dia bisa dengan mudahnya dapetin perhatian orang tuaku di banding aku.
Esok paginya ketika sarapan aku kaget, mama bilang hari ini kak Kevin yang bakal anter + jemput aku sekolah! Ah gak suka banget Gita kalau begini! Ingin rasanya aku menolak. Tapi apa daya, kata-kata mama itu adalah sederet kalimat yang langsung tersegel dengan cap dan gak bisa di ganggu gugat.
"Asikk gue nganter elo ke sekolah..haha..Yess.." dengan spontan tangan kak Kevin menepuk kepalaku pelan. Buru-buru deh langsung aku singkirin.
"Ish apaan sih!" kataku sebel. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, aku hanya diam. Syukurlah begitu lihat gerbang sekolah, aku begitu senang.
"Jangan turun !" cegahku, menarik ujung kaos kak Kevin, waktu dia hampir aja buka pintu mobil.
"kenapa ? gini-gini kan, ini sekolah gue juga dulu.."
"Please, loe di mobil aja.." nadaku melemah, aku menatapnya sambil memohon. Hal yang sangat jarang aku lakukan.
"Yaudah deh" jawab kak Kevin.
Tiba2 pak Roni, guruku yang baru datang menghampiriku. Untung kak Kevin udah cabut.
"Gita, tadi itu si Kevin kan? Anak yang bandel dulu ?" tanyanya.
"Dia kakakmu ya? kok beda sama kamu, dia hampir keluar gara2 tawuran.." Tuhan, apa pula guru di hadapanku ini sama sekali gak nyaring ucapannya-_-
"Iya kali pak, aku juga ngga begitu tau kakakku dulu gimana.." sahutku berusaha biasa saja. Buru2 deh aku permisi masuk kelas sama pak Roni.
Ini bukan pertamanya aku denger catatan buruk tentang kak Kevin disekolah ini. Dia kan alumni sini, guru2 yang pernah ngajar pasti cerita yang gak enak.
Kalau biasanya bel pulang sekolah itu terasa menyenangkan, kali ini aku merasa sebaliknya. Karena 1/2 jam ke depan, bakal dijemput kak Kevin lagi.
"Nah itu adek gue.." suara yang begitu aku kenali, & emang bener, kak Kevin lagi berdiri depan gerbang, sambil diliatin anak2 cewek sekolahan ini.
Ya, sambil nahan kesel kepaksa pulang sama dia. Nyampe dirumah aku langsung nemuin mama.
"Ma besok aku tampil dipensi tapi belum tau nyanyi apa :("
"Wah adek gue nyanyi besok? Ikut ah !" Kak Kevin nimbrung.
"NGGAK! kakak gak penting, gak usah ngrusak acara Gita!" sahutku yng tiba2 membentaknya.
"GITA !!" mama menatapku tajam, belum pernah sebelumnya begini. Tapi aku kesel, aku terus berpegang sama pendirianku yang gak mau kak Kevin dateng besok
"Belain aja terus kak Kevin! Semua memang lebih sayang sama kak Kevin di banding Gita! Dasar kak Kevin benalu!" teriakku smbil naik kekamar.
Lalu aku menangis dikamar. Kebencianku meluap2 saat itu. Kak Kevin bikin aku ribut sama mama. Aku benci. Aku gak pengen dia ada disini !
Esok siang, lingkaran item & kesan sembab timbul dimataku. Aku ngrasa gak siap tampil pensi dalam keadaan begini. Lagi2 semua gara2 kak Kevin! aaa
" Gita , siap-siap ya, habis ini kamu tampil." perutku seperti melilit mendengar kata ketua Pensi tadi. Aku belom nyiapin apa2 ! aku pasrah.
Gitar dimainkan, tapi aku gak keluarin suara sama sekali. Mau nyanyi apa coba? Guru dbawah panggung memberi isyarat gitu, karena intronya udah lewat.
Tiba-tiba saja, entah darimana, ku dengar suara gitar lain. Bukan cuma itu, aku juga kenal banget petikannya, dan lagu apa yang dimainin..
"Kau jadi inspirasiku, semangat hidup, Dikala aku sedih dikala aku senang.."
dari pintu aula, terlihat kak Kevin sedang memetik gitarnya. Aku trsenyum kaget sama kehadirannya. Aku akui dia ngebantu banget ya ini. Iya aku baru inget, itu lirik lagu yang diajarin papa waktu kami masih kecil..Itu lirik lagu khusus kami berdua dari papa. Dengan lancar kami meneruskan lagu itu lalu semua penghuni aula tepuk tangan meriah atas penampilan kami.
Akhirnya aku turun buat makan, ditangga aku liat Mama ngelus2 punggungnya. Hal yang gak pernah dilakuin mama sama aku. Nafsu makanku hilang. Sial!
Aku benci padanya. Iri sama apa yang dia dapetin dengan mudah dan aku nggak. Dia bisa dengan mudahnya dapetin perhatian orang tuaku di banding aku.
Esok paginya ketika sarapan aku kaget, mama bilang hari ini kak Kevin yang bakal anter + jemput aku sekolah! Ah gak suka banget Gita kalau begini! Ingin rasanya aku menolak. Tapi apa daya, kata-kata mama itu adalah sederet kalimat yang langsung tersegel dengan cap dan gak bisa di ganggu gugat.
"Asikk gue nganter elo ke sekolah..haha..Yess.." dengan spontan tangan kak Kevin menepuk kepalaku pelan. Buru-buru deh langsung aku singkirin.
"Ish apaan sih!" kataku sebel. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, aku hanya diam. Syukurlah begitu lihat gerbang sekolah, aku begitu senang.
"Jangan turun !" cegahku, menarik ujung kaos kak Kevin, waktu dia hampir aja buka pintu mobil.
"kenapa ? gini-gini kan, ini sekolah gue juga dulu.."
"Please, loe di mobil aja.." nadaku melemah, aku menatapnya sambil memohon. Hal yang sangat jarang aku lakukan.
"Yaudah deh" jawab kak Kevin.
Tiba2 pak Roni, guruku yang baru datang menghampiriku. Untung kak Kevin udah cabut.
"Gita, tadi itu si Kevin kan? Anak yang bandel dulu ?" tanyanya.
"Dia kakakmu ya? kok beda sama kamu, dia hampir keluar gara2 tawuran.." Tuhan, apa pula guru di hadapanku ini sama sekali gak nyaring ucapannya-_-
"Iya kali pak, aku juga ngga begitu tau kakakku dulu gimana.." sahutku berusaha biasa saja. Buru2 deh aku permisi masuk kelas sama pak Roni.
Ini bukan pertamanya aku denger catatan buruk tentang kak Kevin disekolah ini. Dia kan alumni sini, guru2 yang pernah ngajar pasti cerita yang gak enak.
Kalau biasanya bel pulang sekolah itu terasa menyenangkan, kali ini aku merasa sebaliknya. Karena 1/2 jam ke depan, bakal dijemput kak Kevin lagi.
"Nah itu adek gue.." suara yang begitu aku kenali, & emang bener, kak Kevin lagi berdiri depan gerbang, sambil diliatin anak2 cewek sekolahan ini.
Ya, sambil nahan kesel kepaksa pulang sama dia. Nyampe dirumah aku langsung nemuin mama.
"Ma besok aku tampil dipensi tapi belum tau nyanyi apa :("
"Wah adek gue nyanyi besok? Ikut ah !" Kak Kevin nimbrung.
"NGGAK! kakak gak penting, gak usah ngrusak acara Gita!" sahutku yng tiba2 membentaknya.
"GITA !!" mama menatapku tajam, belum pernah sebelumnya begini. Tapi aku kesel, aku terus berpegang sama pendirianku yang gak mau kak Kevin dateng besok
"Belain aja terus kak Kevin! Semua memang lebih sayang sama kak Kevin di banding Gita! Dasar kak Kevin benalu!" teriakku smbil naik kekamar.
Lalu aku menangis dikamar. Kebencianku meluap2 saat itu. Kak Kevin bikin aku ribut sama mama. Aku benci. Aku gak pengen dia ada disini !
Esok siang, lingkaran item & kesan sembab timbul dimataku. Aku ngrasa gak siap tampil pensi dalam keadaan begini. Lagi2 semua gara2 kak Kevin! aaa
" Gita , siap-siap ya, habis ini kamu tampil." perutku seperti melilit mendengar kata ketua Pensi tadi. Aku belom nyiapin apa2 ! aku pasrah.
Gitar dimainkan, tapi aku gak keluarin suara sama sekali. Mau nyanyi apa coba? Guru dbawah panggung memberi isyarat gitu, karena intronya udah lewat.
Tiba-tiba saja, entah darimana, ku dengar suara gitar lain. Bukan cuma itu, aku juga kenal banget petikannya, dan lagu apa yang dimainin..
"Kau jadi inspirasiku, semangat hidup, Dikala aku sedih dikala aku senang.."
dari pintu aula, terlihat kak Kevin sedang memetik gitarnya. Aku trsenyum kaget sama kehadirannya. Aku akui dia ngebantu banget ya ini. Iya aku baru inget, itu lirik lagu yang diajarin papa waktu kami masih kecil..Itu lirik lagu khusus kami berdua dari papa. Dengan lancar kami meneruskan lagu itu lalu semua penghuni aula tepuk tangan meriah atas penampilan kami.

